Kata-kata Bijak dari Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Kedua – Anak Semua Bangsa)

novel karya Pramoedya Ananta Toer,Anak Semua Bangsa


Pramoedya Ananta Toer tak hanya seorang sastrawan besar Indonesia. Beliau juga seorang humanis . Dalam roman kedua Tetralogi Pulau Buru – Anak Semua Bangsa ini jelas terlihat keberpihakannya pada kemanusian. Begitu gamblang digambarkannya suatu periode dimana arus bawah Pribumi yang tak berdaya tengah berjuang mendapatkan kebebasannya dari cengkeraman tangan kekuasaan Kolonial.

Pramoedya melalui tokoh utama roman ini sepertinya hendak mengutarakan pendapatnya: tak ada yang lebih penting dalam kehidupan ini selain daripada cinta terhadap sesama manusia tanpa memandang asal-usul dimana ia bermula. Maka, demi membenihkan cinta yang humanis itu agar tetap dapat berkembang mestilah setiap orang berjuang untuk meraihnya, dengan segala daya-upaya sekalipun harus menentang arus zamannya yang telah terkorupsi oleh tangan-tangan kekuasaan yang zalim.

Berikut ini sejumlah kutipan dari roman Anak Semua Bangsa, semoga dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan untuk kita. Mari disimak bersama. 


1.”Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tak acuh pada azas, biar sekecil-kecilnya pun...”

2.”Barangsiapa tidak tahu bersetia pada azas dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati.”

3.”Rupa-rupanya demam mencari hal-hal baru, alat-alat baru, tak membiarkan orang puas dengan keadaannya. Orang keranjingan dengan segala apa yang baru, kesopanan baru, tingkah baru.”

4.”Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya – masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.”

5.”Untuk apa hidup sesungguhnya? Bukan untuk menampung semua yang tidak diperlukan.”

6.”Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga menjadi bodoh.”

7.”Penghinaan yang bodoh hanya akan memukul diri sendiri.”

8.”Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapapun! Ubah kedudukan kuli menjadi pengusaha, biar kecil seperti apapun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal! Belajar kerjasama! Bertekun dalam pekerjaan!”

9.“Karena kau menulis. Suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

10.”Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.”

11.”Kesulitan terbesar hanyalah kehabisan teman.”

12.”Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatab. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.”

13.”Semua yang dilahirkan memulai hidup dengan tidak mempunyai sesuatu kecuali tubuhnya dan nyawanya sendiri.”

14.”Tak mungkin bisa mendekati orang tanpa terlebih dahulu menghampiri hatinya.”

15.”Tidak seharusnya orang mesti melihat keceriaan dan derita sebagai satu keseimbangan. Kan kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan?”

16.”Kritik harus ditangkis, tapi harus didengarkan dulu, direnungkan, kalau perlu tidak ditangkis dan diterima sebagai saran. Orang tak perlu marah mendapatkan kritik.”

17.”Siapa pun bebas menerima atau menolak pengaruh.”

18.”Kebebasan, persaudaraan dan persamaan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk setiap orang, setiap dan semua bangsa manusia di bumi ini.”

19.”Kemanusiaan tanpa pengetahuan tentang duduk soal kehidupannya sendiri bisa tersasar.”

20.”Ketidaktahuan adalah aib. Membiarkan orang yang ingin tahu tetap dalam ketidaktahuan adalah khianat.”

21.”Menulis tentang kenyataan harus diperlengkapi dengan bahan yang cukup. Ada metoda untuk itu.”

22.”Semua kejadian besar sebaiknya disaksikan sendiri. Bukan hanya untuk bisa menulis dengan baik, paling tidak membikin hidup kita jadi sarat.”

23.”Orang bisa percaya pada segala yang tidak benar. Sejarah adalah sejarah pembebasan dari kepercayaan tidak benar, perjuangan melawan kebodohan, ketidaktahuan.”

24.”Konsepsi yang salah bisa menganak-biakkan banyak kesalahan.”

25.”Kau masih lebih banyak mencoba menimbang-nimbang baik-buruk orang lain. Bagaimana tentang dirimu? Sudah pernah kau pertimbangkan secara adil?”

26.”Semua pribadi dan bangsa memulai dengan meniru sebelum dapat berdiri sendiri. Orang sepatutnya belajar menyesuaikan diri dengen kenyataan-kenyataan yang baru.”

27.”Kau belum cukup belajar dan berlatih adil, sampai adil itu menjadi watakmu.”

28.”Pengalaman juga yang justru memudahkan diri memahami sesuatu.”  

29.”Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.”

30.”Sekalipun hanya dalam pikiran semata. Keajaiban pengetahuan: tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia, dan kayanya, dan kedalamannya, dan ketinggiannya, dan kandungannya, dan juga sampar-samparnya.”

Fungsi Dialog dalam Teks Fiksi

Setiap kali membaca teks cerita fiksi kita selalu menemukan adanya orang-orang tertentu yang sedang bercakap-cakap, berdebat atau bahkan meluapkan kemarahan. Kita langsung merasa bahwa itu seolah-olah sebuah peristiwa sebenarnya, bukan lagi kisah rekaan. Perasaan dan pikiran kita terbawa hanyut masuk ke dalam cerita. Karena, kita telah menanggapi dunia yang disajikan dalam teks fiksi sebagai peristiwa faktual. Hal ini disebabkan kehadiran tokoh-tokoh yang sedang berinteraksi yang menghidupkan cerita melalui serangkaian dialog mereka.

Bayangkan apa jadinya sebuah teks cerita fiksi yang tidak memuat secuil dialog pun di antara tokoh cerita? Barangkali ketika kita membacanya muncul perasaan bosan. Sebab, kita hanya diberi ’gambaran bisu’ yang monoton, minim adegan dan terasa hambar.

Oleh karenanya, dialog mau tak mau mesti termuat dalam teks cerita fiksi apapun jenisnya. Dialog memang berperan penting. Apa fungsinya? Mari kita selidiki bersama.


dialog, cara menulis dialog, dialog dalam teks, fungsi dialog, dialog dalam cerita, teks fiksi dan dialog


1. Dialog memungkinkan pembaca untuk terlibat aktif dalam penceritaan. Melalui dialog, pembaca teks cerita fiksi akan diarahkan masuk ke dalam posisi percakapan interaktif. Ia akan menanggapi cerita dengan pikiran dan perasaannya untuk mencari tahu apa yang tersirat, maksud dan tujuan di balik ekspresi verbal tiap tokoh cerita yang sedang terlibat dalam satu percakapan.

2. Dialog bersifat mengungkapkan kondisi psikis tokoh dan peranannya dalam perkembangan cerita. Pembaca dapat memahami bagaimana sifat-sifat tiap tokoh, menemukan posisinya dalam cerita apakah sebagai protagonis atau malah antagonis.

3. Dialog dapat menciptakan krisis atau menimbulkan konflik cerita. Ketika disajikan perdebatan sengit antara dua tokoh cerita terhadap suatu soal, ini secara langsung memunculkan ketegangan yang menggerakkan cerita.

4. Dialog mengubah status fiksional dari teks cerita fiksi menjadi faktual. Hal ini disebabkan adanya penggambaran suasana dari peristiwa tertentu dalam cerita yang ’seolah-olah terjadi’ sebagaimana kenyataan faktual sehari-hari. Ada orang-orang yang sedang bercakap-cakap dalam waktu dan tempat tertentu, yang memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

5. Dialog mampu menyajikan kesan sinematik pada teks cerita fiksi. Cerita tersaji ke hadapan pembaca sebagai rangkaian peristiwa hidup yang menarik perhatian, bukan seperti sedang didiktekan oleh pengarang sebagai penjelasan ulang secara naratif. 

Jadi kalau kita hendak mengarang sebuah cerita fiksi yang hidup, penyajian dialog yang menggerakkan cerita melalui krisis dan penyelesaian, mengungkapkan keterlibatan aktif tiap tokoh amat berperan penting guna menopang cerita. Sebuah cerita akan terkesan hidup dengan adanya dialog, dan menawarkan pada pembaca untuk terlibat masuk ke dalam dunia fiksi dengan sukarela. 

Gemilang Berprestasi Ala Angga

“The good life is one inspired by love and guided by knowledge.” BERTRAND RUSSELL

Orang boleh saja lahir dari sebuah keluarga berlatar-belakang ekonomi amat sederhana. Sehari-hari hidup pas-pasan bahkan kekurangan. Namun, selagi masih menyala semangat untuk menjadikan dirinya istimewa dan gemilang dengan berbagai prestasi, kemampuan ekonomi yang terbatas bukanlah penghalang berarti untuk merealisasikan mimpinya itu.


Angga Dwituti Lestari, Kick Andy Show, Miskin Tapi Cumlaude


Gambaran di atas secara nyata dialami oleh Angga Dwituti Lestari, Sarjana Sains yang lulus cumlaude dengan IPK 3,98 dari Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret dalam masa studi yang ditempuh 3,5 tahun. Ia putri dari pasangan buruh tani yang sangat sederhana tinggal di bawah Gunung Merapi, Sleman – Yogyakarta. Penghasilan orang-tuanya didapat dari menggarap sawah orang lain. Dari pekerjaan itu, sang ayah yang hanya lulus SMP membiayai kebutuhan keluarga dengan uang 500 ribu – 750 ribu rupiah, yang digunakan untuk belanja selama sebulan. Ibunya yang drop-out kelas 2 SD bekerja menjadi kuli angkut padi dan beras. Perekonomian keluarganya tentu amat pas-pasan. Tak jarang untuk kebutuhan makan sehari-hari tak terpenuhi dengan layak.

”Dulu pernah kami makan hanya dengan garam dan kerupuk. Itu pernah,” tutur Angga dalam sebuah dialog di acara Kick Andy Show. ”Karena memang tidak cukup penghasilan dari jadi buruh tani di desa.”

Dengan kondisi ekonomi yang seperti itu, siapa saja akan bertanya-tanya bagaimana cara seorang Angga mampu berprestasi gemilang dari sejak SD hingga Perguruan Tinggi. Ia mengisahkan pengalaman hidupnya yang luar-biasa dengan senyum manis yang senantiasa terlukis di wajah. Seolah menjadi sebuah isyarat yang ditujukan pada kita bahwa terbebas dari kesusahan hidup dengan gigih berjuang akan terasa begitu manis buahnya.

Kehidupan sulit yang selalu dirasakan keluarga bukannya membuat Angga mengeluh, tetapi telah menggembleng dirinya untuk tetap berani meraih mimpi. Sejak kecil si-bungsu dari dua bersaudara ini tekun belajar dan berbakti pada orang-tuanya. Ia tak sungkan membantu ayahnya ikut ’matun’(menyiangi gulma dan rerumputan) di sawah, menggembala dan mencari pakan ternak. Dari sejak kelas 5 SD hingga SMP, pekerjaan ini sudi dilakukannya karena kesadaran akan peran sebagai seorang anak dari keluarga buruh tani. Ia tahu bantuan sekecil apapun untuk meringankan beban orang-tuanya amatlah berarti, dan dari sanalah pembelajaran tentang arti kehidupan yang bermanfaat mulai ia dapatkan.

Baru ketika Angga diterima masuk di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta, ia tidak lagi berkubang di sawah ataupun menggembala kambing. Orang-tuanya tahu ia butuh cukup waktu untuk belajar dengan serius. Ia diperbolehkan tidak lagi membantu mereka sebagaimana biasa. Orang-tuanya telah berbesar hati, menurut Angga.

”Kamu harus sekolah saja. Belajar saja. Jangan bantu orang-tua. Biar kamu menjadi anak yang pintar, tapi biar kami yang menderita,” ia masih mengenang ucapan orang-tuanya waktu itu.

Dimotivasi sedemikian rupa, Angga merasa mendapat kekuatan tersendiri. Pengorbanan orang-tua yang rela menderita akibat menanggung beban berat kehidupan demi prestasi gemilangnya amat tak ternilai. Ia begitu menghargai. Ini dibuktikan dengan prestasinya yang berhasil menembus masuk Universitas Sebelas Maret pada program studi ilmu Biologi Fakultas MIPA. Dari sejak awal menjadi mahasiswi di universitas tersebut, Angga mendapat biaya pendidikan dari pemerintah melalui beasiswa bidikmisi.

Angga juga berwirausaha dengan menjual minuman jus buah semasa kuliah. Ada sebuah cerita menarik soal awal mula ia berjualan. Katanya saat itu ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Seorang ibu ingin meminjam uang tabungannya untuk suatu keperluan mendesak. Ia tak tega menampik permohonan si-ibu. Akan tetapi, ia tak ingin bantuan yang diberikan tidak memecahkan persoalan sebenarnya – himpitan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.

Angga lalu berpikir kalau si-ibu langsung diberinya pinjaman uang, itu berarti pertolongan sebenarnya agar terlepas dari kesulitan belumlah diberikan. Pendapatnya mengatakan bahwa si-ibu hanya dibantu supaya ’bisa makan’, tetapi tidak dibantu dengan diberitahu ’cara mencari makan’.

Selanjutnya, ia mengajak ibu itu untuk berjualan jus buah bersamanya secara kecil-kecilan. Pengetahuan yang didapat di bangku kuliah cukup mendalam tentang manfaat buah. Ini menunjang kelancaran usahanya. Selain itu, Angga berkeyakinan jalannya dipermudah karena niat mulia ingin membantu orang lain. Ia menuturkan selama niat kita tulus mau menolong orang, Tuhan tidak tidur. Pasti ada jalan yang memudahkannya. Sekalipun kuliah sambil berjualan minuman jus begitu, prestasi akademiknya tetap cemerlang. Ia pernah mencapai nilai IPK 4,0 sempurna ketika berada di semester IV. 

Kita pantas berdecak kagum pada kegigihan perjuangan gadis yang lahir pada 20 Februari 1992 ini dalam usahanya meraih prestasi dalam pendidikan. Anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan, ia syukuri dengan cara tekun dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Kemampuan ekonomi keluarga yang rendah untuk membiayai pendidikan bukanlah penghalangnya untuk mengukir prestasi. Angga mematahkan asumsi bahwa pendidikan tinggi hanya layak dimiliki anak-anak kaum berada. Ia mampu menginspirasi anak-anak lain dari keluarga sangat sederhana agar jangan takut bermimpi meraih prestasi setinggi-tingginya. Ia telah membuka mata kaum pinggiran di Indonesia bahwa hanya pendidikan yang layak dapat membebaskan mereka dari himpitan penderitaan hidup. Untuk itu layak diperjuangkan.

Setelah lulus S1 dengan predikat cumlaude, Angga masih bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Lalu pulang karena ingin membangun desanya. Sebuah dusun yang dihuni masyarakat dengan tingkat kemampuan ekonomi level menengah ke bawah. Ia bertekad bahwa desanya harus terbebas dari kemiskinan. Apabila ia berhasil melakukan itu, baru ia merasa dirinya berarti bagi orang banyak.

”Jadilah anak yang pintar karena itu akan berarti untuk orang lain,” inilah motivasi terbesar, yang tertanam dalam dirinya sejak dulu. ”Jadilah orang yang baik budinya, pekertinya dan bermanfaat untuk masyarakat.”

Kita belajar dari Angga. Kini kita dapat memahami bahwa daya juang yang besar untuk mengubah nasib, keinginan untuk membuat diri berarti bagi orang banyak bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Selama di dalam diri masih ada keyakinan yang kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpi selalu ada jalan yang memudahkannya. Tuhan hanya akan mengubah kondisi memprihatinkan yang dialami seseorang bila orang itu mau tergerak melakukannya. [M.I

Inspirasi dari Kick Andy Show


Kick Andy Show, Berniaga di Dunia Maya, Cara Jualan di Internet, Dialog Interaktif Cara berdagang melalui jaringan internet
Andy F. Noya bersama Narasumber Kick Andy Show

Bagi pemirsa Indonesia, acara dialog interaktif Kick Andy Show terasa sangat akrab. Program hiburan edukatif yang biasa tayang di stasiun Metro TV ini cukup menarik. Acara ini menyajikan perbincangan ringan yang membahas hal-hal tertentu yang dipandang bermanfaat bagi penonton di studio dan pemirsa di seluruh tanah air. Biasanya dalam Kick Andy Show diundang tokoh-tokoh baik yang menjadi public figure, maupun tokoh pendobrak yang dianggap bisa memberikan inspirasi untuk perubahan. Tema-tema yang kerapkali diangkat dalam acara ini sifatnya selalu kontekstual - yang lagi hangat di tengah masyarakat.

Kick Andy Show demikian nama acara tersebut, diambil dari nama depan pembawa acaranya Andy F. Noya. Ia seorang host yang cukup eksentrik, cerdas sekaligus humoris. Sewaktu acara ini berlangsung, tak jarang ada selingan-selingan segar melalui leluconnya yang mampu menghangatkan suasana, membuat penonton meledak tawa. Namun, sesungguhnya dalam tiap leluconnya itu terselip sesuatu yang memang sengaja untuk membuka wawasan pemikiran ditawarkan dengan cara segar khas humor. Sehingga penonton tak hanya merasa terhibur tetapi juga tercerahkan tanpa mereka sadari. Selain itu, biasanya juga di penghujung acara Andy akan membagi-bagikan buku pada para penonton yang hadir. Ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri program dialog interaktif yang tayang sekitar pukul 20.00 WIB tersebut.

Sekarang mari kita simak Kick Andy Show dari salah satu episodenya yang bertema Berniaga di Dunia Maya, tayang pada 29 Juli 2016 lalu. Narasumber yang diundang dalam episode kali ini adalah anak-anak muda, Carlene Darjanto dan Ria Suwarno, yang telah sukses memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya kepada konsumen. Berikut ringkasan dialognya..


Andy    : "Ternyata Anda berdua, ya, pemilik cottonink yang terkenal itu.. Tapi sebelum sampai ke sana, berapa sih umur Anda berdua?"

Ria       : "Tahun ini kita 29."

Carlene: "Beda berapa hari kita lahir, ya?"

Ria       : "Dua minggu.."

Andy    : "29.. Sama?"

Carlene: "Iya, kita berdua umurnya sama."

Andy    : "O, begitu. Jadi kalau mau bisnis, cari partner yang umurnya sama, ya?"

(Penonton dan narasumber di studio tertawa mendengar candaan Andy.)

Carlene: "Shio-nya juga sama."

Ria    : "Horoscope-nya juga sama."

Andy    : "O, shio-nya juga sama?"

Ria      : "Iya, sama."

Andy    : "Suaminya sama?"

Carlene: "Untung tidak, ya.."

(Sahut Carlene dan Ria tersenyum merasa tergelitik dengan candaan nakal host).

Andy    : "O, untung tidak ya.. OK, deh.. Latar belakang pendidikan?"

Carlene: "Kalau saya memang dari (jurusan) Fashion Design, sih."
.
Andy    : "Kalau Ria?"

Ria      : "Graphic Design."

Andy    : "Ok, menarik. Nanti ceritakan. Nah, ketika mulai bisnis dengan merk cottonink yang hebat ini, berapa tahun yang lalu?"

Ria      : "Delapan tahun yang lalu."

Carlene: "Di umur dua puluh satu tahun."

Andy    : "O, berarti umur dua puluh satu tahun sudah mulai terjun ke bisnis, ya? Dan berhasil.."

(Ria dan Carlene mengangguk.)

Carlene: "Aamiinn.."

(Applause dari penonton.)

Andy    : "Ketika memulai mendirikan cottonink ini, modalnya berapa ya?"

Ria       : "Kita berdua satu juta, sih.."

Andy    : "US Dollar? Satu juta apa, nih?"

(Lagi gemuruh tawa mewarnai suasana.)

Ria       : "Satu juta Rupiah."

Andy    : "Sedikit amat?

Ria      : "Ya, karena dulu kan produknya belum banyak seperti sekarang."

Andy    : "Dulu mulai dengan jualan apa?"

Carlene: "Jadi dulu kita mulai dengan iseng-iseng berhadiah begitu.. Kita berdua buat produk kayak printed t-shirt. Dan jualnya juga lewat facebook. Yang jualnya Ria, karena dia temannya banyak. Kira-kira begitu."

Andy    : "Yang dijual waktu itu t-shirt apa? T-shirt ajaib apa?"

Ria    : "Waktu itu kita bikin t-shirt bergambar Obama. Karena 2008 bertepatan dengan pemilihan presiden Amerika. T-shirt yang simpel, sih.. Jadi t-shirt putih yang ada frame mukanya Obama."

Andy    : "Itulah kesalahan saya. Saya dulu mulai jualan baju yang gambarnya wajah saya. Makanya tidak laku."

(Penonton di studio tergelak.)


Andy     : "Jadi ternyata laku, ya?"

Ria       : "Ternyata laku."

Andy    : "Ini dimulainya dulu melalui online begitu, ya?"

Ria       : "Iya, betul."

Andy    : "Jadi waktu itu tidak punya toko, punya tempat untuk jualan?"

Carlene: "Tidak. Tidak terpikirkan. Baru sekarang saja punya toko."

Andy    : "Bagaimana kalian berdua sampai terpikirkan untuk berjualan online?  Padahal dulu tahun 2008 belum banyak yang jualan dengan cara begitu? Dan ketika memutuskan masuk ke industri fashion, itu bagaimana ceritanya?"

Carlene: "Waktu itu setelah kita memulai cottonink ini, saya dan Ria akhirnya memutuskan dulu untuk bekerja di sebuah perusahaan. Jadi cottonink itu seperti awalnya hanya kerja sambilan. Saya waktu itu ingat ngomong ke Ria.. Ini chance yang tidak bakal datang dua kali. Brand kita ini lagi naik daun, dibicarakan di sosial media dan forum. Jadi kita berdua memutuskan untuk fokus. Kayaknya awal 2010 itu kita mulai benar-benar bekerja full-time untuk cottonink."

Andy    : "Kok, kalian berdua bisa jadi partner?"

Ria       : "Kita teman di sekolah dari SMP."

Andy    : "O, teman SMP. Ketika memutuskan untuk terjun, apa yang pertama kali dilakukan?"

Carlene: "Saya langsung membuat koleksi. Maksudnya saya mendesain baju."

Andy    : "Bagi tugasnya bagaimana?"

Carlene: "Kalau partner-an jangan dua-duanya mengerjakan hal yang sama. Pasti berantem."

Andy    : "O, begitu. Jadi tugas-tugasnya apa? Kalau Carlene tugasnya apa? Ria tugasnya apa?"

Carlene: "Saya adalah direktur PT kami. Saya lebih melakukan strategic planning. Kemudian saya tetap melihat desain-desain saya. Dan lebih ke arah operasional."

Ria     : "Saya in-charge lebih ke branding and marketing. Jualan.."

Andy    : "Jadi Carlene yang bikin, Ria yang jualan. Begitu sederhananya, kan?"

(Mereka berdua mengiyakan.)

Andy    : "Kenapa namanya cottonink, ya?"


Kick Andy Show, Berniaga di Dunia Maya, Cara Jualan di Internet, Dialog Interaktif Cara berdagang melalui jaringan internet
Carlene dan Ria dalam Kick Andy Show

Carlene: "Produk pertama kami, kan kaos dengan bergambar Obama. Dan waktu itu biar keren harus ada label. Kalau mau jualan mesti ada nama. Tapi apa namanya? Saya nanya ke Ria.. Telepon-an sama dia. Dia bilang produk kita itu bahannya cotton. Ada ink tintanya. Ya, kasih nama cottonink saja. Jadi memang tidak dipikirkan juga (merk-nya). Iseng-iseng berhadiah juga.."

Andy    : "Apa keunggulan cottonink dibanding produk-produk fashion lainnya?"

Ria    : "Yang pertama adalah produk kita itu desain sendiri. Kita memproduksi sendiri. Selain itu kita juga menggunakan bahan-bahan Indonesia jenis batik untuk salah satu berlabel cottonink. Jadi kita juga mengangkat ke-Indonesia-an."

Andy    : "Harganya kisaran berapa, ya?"

Carlene: "Range nya dari 199 ribu sampai 400 ribu."

Andy    : "Itu artinya mahal, sedang atau murah?"

Carlene: "Untuk target market kita, itu pas.."

Andy    : "Harus bilang 'pas' ya.. Kalau tidak, orang lari tidak mau beli. Segmen pasar yang dituju? Siapa yang dituju?"

(Penonton dan narasumber lagi tertawa mendengar gurauan host eksentrik ini.)

Carlene: "Tujuan kami yang utama adalah wanita Indonesia umur 21 – 25 tahun. Itu adalah core market kita. Yang mungkin mengerti teknologi, suka menggunakan handphone. Karena toko kita kan adanya online. Ada di website kita www.cottonink.co.id. Jadi orang ini harus punya akses ke internet yang bisa mem-browsing begitu.."

Andy    : "Berapa persen produknya terjual melalui online berbanding offline?"

Carlene: "Sekarang 70% online, dan 30% offline."

Andy    : "Itu pembelinya darimana saja? Dan siapa saja?"

Carlene: "Kebanyakan dari Indonesia."

Andy    : "Dari luar negeri ada?"

Ria       : "Dari luar negeri ada."

Carlene: "Dari luar negeri.. Itu dari Singapura, Malaysia dan Australia."

Andy    : "Apa enaknya, sih.. Jadi enterpreneurs (pelaku wirausaha) ini?"

Carlene: "Hmm, bisa menentukan nasib sendiri dan lebih flexible dengan waktu."

Andy    : "Banyak anak muda, saya dengar ingin sekali terjun berbisnis online juga. Boleh kasih tips.. Apa hal yang harus diperhatikan agar tidak cenderung gagal?"

Carlene: "Yang paling penting adalah orang (yang mau berbisnis online) ini tahu apa yang berbeda dan unik dari produknya. Dan harus selalu menonjolkan itu kepada customers. Karena begitu banyak saingan, orang bisa saja beli ke tempat lain. Jadi kalau dari saya yang paling penting itu adalah produknya."

Andy    : "Kalau dari Ria apa? Mungkin ada tambahan?"
   
Ria    : "Kita harus fokus saja. Ke depannya mau bagaimana (bisnis yang dijalankan) ini? Fokus untuk mengerjakannya.. Fokus untuk mengejar target ke depannya. Kita melihat ke hasil akhirnya."


Inspirasi dari Dialog

Hampir bisa dipastikan penonton dan pemirsa yang menyaksikan Kick Andy Show akan terinspirasi. Dalam tayangan yang mengangkat tema Berniaga di Dunia Maya ini, wawasan kita menjadi terbuka mengenai cara berdagang memanfaatkan internet. Dan tips yang barangkali bisa berguna untuk kita adalah sebagai berikut:

1. Jual-beli barang melalui sistem daring pada konsumen harus mengerti sistem perdagangan online. Ini artinya produk yang ditawarkan ditampilkan dalam bentuk data digital (image) lengkap. Tampilan foto produk mesti menarik (eye-catching), harga tertera cukup terjangkau kantong konsumen dan barangnya mudah didapat (available).

2. Produk yang hendak ditawarkan kepada konsumen sebaiknya memiliki kelebihan tersendiri, unik dan tidak merupakan barang yang telah beredar cukup banyak di masyarakat. Konsumen memiliki logikanya sendiri. Ia akan tertarik membeli apabila barang tersebut sesuai dengan kriterianya - sesuatu yang eksklusif sehingga layak dimiliki dan belum dipakai luas publik. Agaknya daya pesona dari keunikan suatu produk berperan besar dalam hal kelancaran pemasaran dan penetapan harga jual.

3. Produk itu mesti memiliki target pasar yang jelas memiliki segmentasi – ditujukan untuk siapa saja produk tersebut. Siapa saja konsumen yang disasar, terukur atau tidak daya belinya terhadap produk kita.

4. Jika ingin berbisnis, tidak mesti selalu dengan modal yang besar. Modal yang kecil pun bisa dijadikan untuk memulai usaha asal pelaku usaha tersebut memiliki ketekunan mengembangkan bisnis, dan berupaya menjalin kerja-sama yang baik - saling menjaga kepercayaan. Jika konsumen merasa 'nyaman' berbisnis dengan kita (karena dia percaya barang yang dibeli memuaskan dan murah), bisnis kita akan mereka promosikan sendiri dari mulut ke mulut menjadi 'buah bibir'. Alhasil, produk dagangan kita menjadi dikenal luas di masyarakat.

5. Berwirausaha dengan sistem partnership sebaiknya memiliki pembagian tugas yang jelas. Job description  ini berguna untuk memperlancar kegiatan usaha. Tidak dianjurkan bagi masing-masing pelaku usaha yang ber-partner untuk mengerjakan 'hal yang sama' bersamaan. Tentunya ini akan menghambat kegiatan usaha, memboroskan tenaga dan waktu. Adalah lebih baik menyerahkan tugas kepada partner bisnis kita, yang mana dia memang menguasai bidang pekerjaannya. Itu amat efisien lagi efektif. 

6. Branding atau nama merk dagang. Barang apa pun yang ditawarkan supaya mudah diingat konsumen, sebaiknya memiliki label. Ini ternyata amat penting sebagaimana yang dikatakan narasumber dalam dialog interaktif di atas.

Demikian secarik catatan dari menyimak salah satu episode dalam acara Kick Andy Show. Saya berharap semoga artikel sederhana ini bermanfaat untuk Anda. Salam. [M.I]


Download tayangan - Berniaga di Dunia Maya Part 1

Download tayangan - Berniaga di Dunia Maya Part 2

Film The Skin I Live In, Potret Kerumitan Kejiwaan Manusia

review the skin i live in


The Skin I Live In (2011), sebuah film yang berjenre psychological thriller arahan sutradara Pedro Almodovar. Judul asli film ini La Piel Que Habito, menceritakan dunia pengalaman konkret manusia yang kompleks dan ambigu. Betapa pengalaman hidup menyakitkan seperti kehilangan orang-orang terdekat dapat memicu sebuah obsesi, dendam yang tersembunyi, kegamangan dalam konflik identitas diri, dan bahkan perasaan cinta yang ganjil.

review the skin i live in

Di bagian awal, film ini menampilkan sosok perempuan muda cantik, Vera Cruz (Elena Anaya). Ia tinggal dalam sebuah kamar di rumah mewah. Kebutuhan sehari-harinya diantar naik dengan lift khusus dari lantai bawah oleh pembantu yang mengurus rumah itu, Marilia (Marisa Paredes). Vera dalam kesehariannya berlatih yoga, membaca dan berkreasi lain untuk menghilangkan kejenuhan. Siapa sebenarnya Vera yang ruang geraknya amat dibatasi itu?

Adegan selanjutnya terlihat Dr. Robert Ledgard (Antonio Banderas) pulang dari tempat kerjanya. Turun dari mobil, ia langsung ke laboratorium pribadi di basement. Suasana berkesan ilmiah amat terasa. Ruangan steril nan sejuk berdinding kaca tebal transparan, dan tampak alat-alat canggih dunia kedokteran tertata rapi. Robert melakukan riset di sini. Ia seorang dokter ahli bedah plastik.

review the skin i live in


Suatu ketika dalam satu forum ilmuwan, Robert memaparkan orasi ilmiahnya. Ia melakukan penelitian dan menemukan satu jenis kulit sintetis anti panas dan tahan serangan penyakit. Gal nama temuannya itu. Diadopsi dari nama panggilan mendiang istrinya yang tewas terbakar dalam sebuah kecelakaan mobil. Hadirin terpana menyimak penjelasannya. Mereka sangsi apa bisa temuannya digunakan ke tubuh manusia, mengingat terdapat persoalan gen yang cukup pelik. Kulit, jaringan tubuh yang tidak mudah diganti bagai menempelkan prangko. Mereka memahaminya. Presiden dari komunitas ilmuwan dalam forum tersebut juga bertanya-tanya.

Robert meyakinkan itu bisa dilakukan. Metode transgenetik – memindahkan informasi genetik dari jaringan tertentu yang lebih kuat – akan membantu proses transplantasi kulit ke tubuh manusia. Presiden komunitas ilmuwan tak setuju. Baginya tindakan Robert telah melanggar bioethics. Ia mengancam akan melaporkan ini ke dewan ilmuwan. Namun, Robert bersikeras melanjutkan penelitian dengan alasan tersendiri. Pengalaman traumatik merawat istrinya yang luka bakar sulit dilupakan – ini manjadi motivasi utamanya. Ia berpikir kelak temuannya dapat digunakan untuk menolong korban kecelakaan, khususnya untuk korban dengan luka bakar permanen sepertinya istrinya dulu. Tentu saja sang ahli bedah plastik ini harus bereksperimen – setidaknya untuk membuktikan keyakinannya itu.

Sampai batas ini, kita mulai bisa menemukan benang merah antara profesi Robert dan Vera – pasien istimewa di rumah pribadinya. Namun, identitas jelas tentang diri Vera masih samar. Skenario The Skin I Live In agaknya dirancang Almodovar dengan alur cerita yang tidak langsung. Kita harus menghubungkan sendiri bagian demi bagian hingga bisa melihat arah cerita dalam film ini.

Misteri siapa gerangan Vera sedikit terkuak. Sejak dihadirkannya tokoh bernama Vicente (Jan Cornet) terlihat dalam sebuah pesta pernikahan Casilda Efraiz, anak kolega Robert. Dalam satu kesempatan, Vicente berhasil membawa keluar Norma (Blanca Suarez), putri semata wayangnya. Saat itu Vicente sedang mabuk akibat pengaruh obat-obatan. Ia memperkosa Norma di bawah pohon dalam keremangan di halaman kebun rumah tempat pesta. Robert terlambat menyelamatkan putri lugunya. Tetapi, ia sempat melihat Vicente melarikan diri, melaju kencang di atas sepeda motornya.

Akibat peristiwa tragis itu, Norma mengalami trauma. Ia ketakutan bertemu dengan lelaki, sekalipun itu ayahnya sendiri. Robert membawanya ke sebuah lembaga psikoterapi. Malang bagi Norma justru di tempat itulah hidupnya berakhir. Lompat dari jendela di ruang atas perawatannya, ia tewas mengenaskan.

Kehilangan putri kesayangan yang mati tragis, Robert amat marah dan dendam terhadap Vicente. Suatu malam ia mengintainya. Di sebuah ruas jalan membelah hutan sunyi, ia menyerempet Vicente sampai terpental jatuh. Robert lalu bergegas menembaknya dengan senjata pembius, dan menculiknya.  

Vicente lalu disekap dalam ruang bawah tanah di rumah Robert. Ia diperlakukan layaknya tahanan berbahaya. Kurang diberi cukup makan, dan pakaiannya pun dilucuti. Perlakuan kejam ini layak didapatkan si pemerkosa putrinya, pikir Robert. Penderitaan setimpal, harga yang pantas dibayarnya.


review the skin i live in

Marilia, pembantu setia sang dokter, sebenarnya mengetahui. Namun, tak berbuat apapun. Mungkin ia tak mau majikannya berurusan dengan polisi. Barangkali ia juga marah terhadap pemuda itu. Atau, ada alasan khusus lain, hanya ia sendiri yang tahu. Mengapa Marilia bersikap begitu? Benarkah ia cuma seorang pembantu?      

Suspensi agaknya dijaga baik oleh sutradara. Tiap tokoh utama terselubung misteri dalam kepribadiannya. Seperti Robert yang diam-diam akhirnya memutuskan untuk ”mem-vermak” tubuh Vicente dalam sebuah operasi. Bersama rekannya, Fulgencio (Eduard Fernandez), ia merombak total tubuh pasien istimewanya itu. Fulgencio sebelumnya dibohongi. Robert meyakinkan bahwa si pasien dengan sadar memang telah meminta dia untuk mengoperasinya – menjadi perempuan utuh. Vicente lalu diganti kelamin, dipasangi ’onderdil’ pelengkap, dan kulitnya pun berubah halus layaknya kaum hawa.

Semua tahap operasi bedah telah selesai, kini Vicente jelmaan perempuan jadi-jadian bernama Vera. Ia gamang. Ia terperangkap dalam tubuh baru. Ia mengalami shock, tak bisa menerima dirinya sendiri. Namun, ia tak kuasa menolak kenyataan getir ini. Ia hanya tahanan special bagi tuannya – sang ahli bedah plastik yang kelewatan kreatif terhadap tubuhnya. Sekalipun nampak molek, namun ia cantik yang luka. Dalam luka menganganya itu, masih mendidih darah pemberontakan. Kelak Vicente menemukan cara.

review the skin i live in

Kalau Vicente – Vera terlihat amat menderita, sebaliknya Dr. Robert Ledgard merasa amat puas dan bangga dengan hasil kreativitas ilmiahnya. Melihat tubuh menawan Vera sepulang kerja menjadi kebiasaan baru baginya. Itu bagai obat penghilang penat amat mujarab. Apalagi ia cukup lama menyendiri. Bisa jadi Robert telah jatuh hati pula. Bukankah cinta punya caranya sendiri menemukan objeknya? Begitulah realitanya. Vera tahu ia sering diperhatikan. Seketika ia terinspirasi. Mungkin solusi cerdas terbebas dari penjara mewahnya itu, berpura-pura menjadi pendamping hidup bagi Robert. Terkadang kepalsuan dibutuhkan demi mewujudkan keinginan. Baginya ini sepadan.

Cerita dalam film ini mulai memasuki ketegangan. Tokoh Seca (Roberto Alamo) perampok berangasan, adik seibu dengan Robert muncul dalam sebuah adegan. Ia mendapat alamat rumah sang dokter setelah membaca sebuah artikel koran lokal. Tiba di kediaman Robert, ia disambut Marilia yang tersentuh kata-katanya – rindu bertemu ibu. Dipersilakan masuk dan dihidangkan makanan. Ketika Seca hendak mengambil sebotol minuman, di layar monitor dilihatnya seorang perempuan cantik berada dalam satu kamar. Ia bertanya pada Marilia. Ibunya berbohong. Katanya itu hanya tampilan film saja, tidak ada siapa-siapa. Seca bersikeras ingin menemui, tetapi ibunya malah mengusir keluar di bawah ancaman sepucuk pistol. Saat Marilia lengah, ia berhasil merebut senjata dan mengikatnya. Lalu mencari perempuan cantik dalam kamar. Vera merasa amat cemas. Ia tahu ada yang tak beres setelah mendengar suara tembakan. Akhirnya, Seca berhasil merengkuh dan memperkosanya setelah pintu kamar dibuka. Tiba-tiba Robert pulang dan menemukan pembantunya terikat. Ia juga melihat Vera yang sedang digagahi. Ia lalu menembak mati Seca dan membuang mayatnya.

Peristiwa pemerkosaan itu rupanya menjadi jalan pembuka kebebasan Vera. Ia mulai merayu Robert agar mau hidup bersama bagai sepasang kekasih kasmaran. Sang dokter bersedia. Mereka mulai tidur seranjang, mereguk kehangatan di malam dingin. Bagi Vera memang terasa absurd. Namun, ia mesti apik melakoni peran sandiwaranya. Peluang emas akhirnya datang juga menghampiri Vera. Ia segera memanfaatkan dengan cekatan. Di dalam kamar, Robert dan Marilia, ibu kandung sang dokter yang selama ini berpura-pura menjadi pembantu setia, terkulai setelah mereka ditembaknya.
        
Film produksi El Deseo S.A dengan musik yang ditangani Alberto Iglesias ini cukup menarik, bukan? Kita seperti diberi sebuah persepsi mengenai tubuh, konflik identitas diri, absurditas cinta, dan pemahaman soal kehidupan emosional individu yang amat pelik.

Pedro Almodovar bekerja sama dengan produser Agustin Almodovar sepertinya ingin mewacanakan betapa tubuh dipandang amat privat. Tubuh memuat makna tertentu bagi tiap pribadi. Melalui tokoh Vera, tersirat bahwa tubuh seseorang yang berubah secara terpaksa rentan menimbulkan distorsi psikologis. Kegamangan melihat diri sendiri yang ganjil dari biasanya. Siapakah aku dengan tubuh baruku kini? Masihkah dapat kukenali lagi? Penyimpangan prilaku, penuh kepalsuan yang terbungkus keinginan tersembunyi cepat sekali dipicu oleh tubuh yang termodifikasi.

Dalam pada itu, Tokoh Dr. Robert Ledgard seolah hendak mengingatkan kita kembali. Betapa ilmu pengetahuan yang berada dalam jiwa yang sakit, dipengaruhi ambisi dan kebencian sungguh tidak akan pernah memberikan kebaikan. Sebaliknya, ilmu tersebut akan menjadi senjata berbahaya yang membuat orang lain menderita, dan memberikan kesombongan diri semata bagi pemiliknya.  [M.I]


Nonton Online dan Download Film